Kenapa Natal Identik dengan Pohon Cemara, Begini Sejarahnya Halaman all

KOMPAS.com – Perayaan Hari Raya Natal identik dengan berbagai simbol dan pernak-pernik, salah satunya pohon cemara. Kenapa Natal identik dengan pohon cemara?

Seperti diketahui bersama, umat Kristiani biasa menggunakan pohon cemara berwarna hijau sebagai lambang Natal, di samping lampu, hiasan, sinterklas, dan rusa.

Melansir National geographic, dahan cemara telah menjadi dekorasi yang penting sejak zaman dulu sebagai bagian dari perayaan titik balik matahari musim dingin pagan.

Baca juga: 5 Tanaman Hias Ini Bisa Digunakan sebagai Pengganti Pohon Natal

Sulit untuk menentukan kapan dan di mana tradisi pagan ini berubah menjadi tradisi Natal. Kendati masih ada beberapa diskusi, tradisi pohon Natal dipercaya sudah ada sejak perayaan musim dingin ratusan tahun lalu di Eropa.

Penyembahan pohon biasa dilakukan di antara orang Eropa pagan. Selain itu, masyarakat Skandinavia sering mendekorasi rumah dan gudang dengan pohon cemara pada Tahun Baru untuk menakut-nakuti Iblis. Sekaligus mendirikan pohon untuk burung selama Natal.

Adapun penggunaan pohon cemara dan karangan bunga untuk melambangkan kehidupan abadi juga merupakan kebiasaan orang-orang Mesir kuno, China, dan Ibrani, mengutip Britannica.

Baca juga: Home Alone hingga The Polar Express, Ini 5 Rekomendasi Film Tema Natal

Sementara menurut BBC, seperti dilaporkan Kompas.com, Sabtu (24/12/2017), ada legenda lain di balik asal-usul pohon natal.

Misalnya, cerita seorang biarawan bernama St Bonifasius yang berhasil mengkristenkan orang-orang penyembah pohon oak di Jerman.

Orang-orang takjub melihat kemunculan pohon cemara kecil setelah Bonifasius menebang pohon oak itu. Lalu, ia mengatakan bahwa pohon cemara adalah pohon kehidupan dan mewakili kehidupan Kristus.

Asal usul pohon Natal modern dari Jerman

Menurut keterangan National Geographic, sejarawan Gustav Strenga mengatakan bahwa kemungkinan besar pohon Natal berasal dari wilayah Alsace di abad ke-16. Dulu, Alsace adalah bagian dari Jerman.

Hal senada disampaikan Profesor studi agama Carole Cusack, yang menyebutkan kalau pohon Natal modern bermula dari Jerman.

Saat itu, ada yang mengatakan bahwa pohon Natal terinspirasi dari pohon surga, simbol Taman Eden yang bercerita tentang Adam dan Hawa.

Baca juga: Merry Christmas, 12 Ucapan Selamat Natal 2021 dalam Bahasa Inggris dan Indonesia

Sehingga pada 24 Desember yang merupakan hari raya keagamaan Adam dan Hawa, warga Jerman mendirikan pohon tersebut di rumah mereka.

Pendapat lain mengatakan bahwa pohon Natal berevolusi dari piramida Natal, struktur kayu yang dihiasi dahan hijau dan tokoh agama.

PIXABAY/EAK K. Ilustrasi Natal, pohon Natal.

Dalam legenda lain, diceritakan tradisi pohon Natal dan hiasannya berawal dari Martin Luther, seorang reformis Protestan.

Tahun 1882 ketika berjalan pada malam hari, Luther terkesan karena melihat kelap-kelip bintang dari sela-sela pepohonan. Ia lantas terinspirasi ingin menghadirkan sinar-sinar itu dengan memasangkan lilin pada pohon yang ada di rumahnya.

Baca juga: 6 Gereja Kuno di Jakarta, Cocok Dikunjungi Saat Libur Natal

Kemudian, imigran Jerman membawa tradisi ini saat mereka bermukim di negara lain. Pada abad ke-18, kata Cusack, pohon Natal sudah ada di seluruh Eropa.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa masyarakat Eropa sebenarnya sudah biasa memajang pohon di rumah mereka dan mendekorasinya sejak abad ke-16. Dekorasi ini berupa kertas berwarna, mainan kecil, makanan, dan terkadang lilin.

Diduga populer sejak dibawa keluarga kerajaan Inggris

Banyak sejarawan yang menilai bahwa tradisi pohon cemara saat Natal dipopulerkan oleh keluarga kerajaan Inggris pada 1864, yaitu Pangeran Albert, suami Ratu Victoria.

Ratu Victoria (kanan) dan Pangeran Albert (kiri), Ratu Victoria (1819- 1901) memerintah Inggris Raya 1837- 1901Shutterstock/Everett Collection Ratu Victoria (kanan) dan Pangeran Albert (kiri), Ratu Victoria (1819- 1901) memerintah Inggris Raya 1837- 1901

Mengutip History, muncul gambar ilustrasi Ratu Victoria bersama Pangeran Albert berdiri di sekitar pohon natal bersama anak-anak mereka. Pohon itu didekorasi dengan berbagai hiasan seperti lilin, permen, kue mewah, dan lain-lain yang digantung oleh pita serta rantai kertas.

The Telegraph juga menyampaikan bahwa Pangeran Albert menumbuhkan pohon tersebut di Istana Windsor. Hal ini banyak diterima, karena Pangeran Albert berasal dari Jerman yang merupakan tempat tradisi pohon natal berasal.

Baca juga: Ucapan Selamat Natal dalam Bahasa Daerah, Ada Bahasa Batak dan Bahasa Jawa

Pada saat itu, Ratu Victoria adalah seorang trendsetter pada zamannya, sehingga tradisi tersebut berkembang di seluruh dunia.

Tak hanya menghias pohon Natal, tradisi ini menjadi lebih kompleks pada pertengahan abad ke-19. Perayaan Natal pun menjadi lebih ramai dengan tradisi kartu natal, tukar kado, makan kue pai, dan lain sebagainya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

https://travel.kompas.com/read/2021/12/25/151500727/kenapa-natal-identik-dengan-pohon-cemara-begini-sejarahnya?page=all

Related Posts